Tangselnews – Hujan yang turun nyaris tanpa jeda sejak awal tahun seperti membuka satu per satu wajah rapuh jalanan di Kota Tangerang Selatan. Aspal mengelupas, lubang muncul tiba-tiba, dan genangan mempercepat kerusakan yang sebelumnya nyaris tak terlihat.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya gangguan perjalanan. Namun bagi pengendara roda dua, satu lubang bisa berarti kehilangan kendali. Dalam hitungan detik, jalan rusak berubah menjadi ancaman keselamatan.
Beberapa waktu terakhir, sorotan publik tertuju pada ruas Ciputat hingga perbatasan Depok. Jalur padat yang menjadi penghubung mobilitas warga lintas wilayah itu ramai diperbincangkan — bukan karena kemacetannya, tetapi karena permukaannya yang kian memprihatinkan.
Di tengah derasnya kritik dan kekhawatiran warga, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Tangerang Selatan memilih satu langkah yang paling penting: hadir di lapangan.
Bukan sekadar menunggu laporan, tetapi memastikan sendiri kondisi sebenarnya.

Tugas yang Tak Berhenti pada Batas Kewenangan
Tak semua jalan rusak bisa langsung diperbaiki pemerintah kota. Ada ruas milik provinsi, nasional, bahkan kawasan pengembang. Anggaran pun memiliki pagar yang jelas — hanya boleh digunakan untuk jalan berstatus kewenangan kota.
Namun bagi SDABMBK, keselamatan warga tidak bisa menunggu urusan administrasi selesai.
Kepala Dinas SDABMBK Kota Tangerang Selatan, Robbi Cahyadi, ST., MT., menegaskan bahwa peran dinas tidak berhenti pada jalan yang menjadi tanggung jawabnya saja.
“Kami memahami masyarakat tidak melihat status jalan — yang mereka rasakan adalah aman atau tidak saat melintas. Karena itu, meski memiliki keterbatasan kewenangan, kami tetap turun melakukan pengecekan, memetakan kerusakan, dan berkoordinasi dengan pemilik aset agar penanganan bisa segera dilakukan.”
Data dinas menunjukkan, sejak Januari hingga 5 Februari 2026 terdapat 24 laporan jalan rusak yang masuk. Rinciannya memperlihatkan realitas yang kerap tak disadari publik:
8 ruas jalan kota
5 ruas jalan provinsi
4 ruas jalan milik pengembang
6 ruas jalan nasional
Artinya, sebagian besar kerusakan justru berada di luar kendali langsung pemerintah kota.
Tetapi membiarkannya bukan pilihan.
Menjadi “Mata” bagi Jalan yang Bukan Miliknya
Nama-nama seperti Ir. H. Juanda, Dewi Sartika, Otista Raya, hingga Mohamad Toha bukan sekadar ruas jalan biasa. Mereka adalah arteri penghubung antarprovinsi — jalur pekerja, distribusi logistik, sekaligus denyut ekonomi kawasan.
Ketika kerusakan muncul di sana, dampaknya menjalar cepat.
SDABMBK pun mengambil peran strategis: mendokumentasikan kerusakan, menyusun laporan teknis, lalu mengirimkannya secara berkala kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Wilayah Banten.
Respons mulai terlihat.
Pada 2 Februari 2026, BPJN melakukan penanganan sementara di Jl. Otista Raya (Pasar Cimanggis) dan Flyover Ciputat. Penanganan berlanjut pada 6 Februari 2026 di Jl. Ir. H. Juanda kawasan Sandratex.
Belum sepenuhnya mulus, tetapi cukup untuk meredam risiko kecelakaan.

Berpacu dengan Langit
Ada satu musuh yang tidak bisa dinegosiasikan: cuaca.
Pengaspalan membutuhkan permukaan kering agar material melekat sempurna. Air hujan dapat merusak struktur lapisan bahkan sebelum jalan itu sempat digunakan optimal.
Robbi tidak menampik tantangan tersebut.
“Perbaikan jalan beraspal idealnya dilakukan saat cuaca cerah. Jika dipaksakan dalam kondisi basah, kualitasnya tidak akan bertahan lama dan justru berpotensi menimbulkan kerusakan baru. Karena itu kami memilih langkah taktis — melakukan pemantauan intensif dan penanganan sementara sambil menunggu waktu terbaik untuk perbaikan permanen.”
Sementara itu, pada ruas yang menjadi kewenangan kota, tim terus bergerak.
Walau belum seluruhnya tertangani, tindakan nyata dalam penanganan sementara terus dilakukan Dinas SDABMBK pada jalan-jalan kota. Lubang berisiko ditutup, permukaan tajam diratakan, dan titik rawan diprioritaskan agar tidak memicu kecelakaan.
Kerja yang mungkin luput dari perhatian — tetapi terasa dampaknya bagi mereka yang melintas setiap hari.
Kota yang Terus Berjalan, Kewaspadaan yang Harus Dijaga
Musim hujan selalu menjadi periode paling berat bagi infrastruktur jalan. Volume air meningkat, tanah bergerak, dan beban kendaraan mempercepat degradasi aspal.
Dalam situasi seperti ini, SDABMBK juga mengingatkan masyarakat untuk mengambil peran sederhana namun krusial: mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan lebih peka membaca kondisi jalan — terutama pada malam hari atau selepas hujan deras.
Karena sering kali, bahaya datang tanpa tanda.
Tentang Tanggung Jawab yang Tak Selalu Terlihat
Mengelola jalan di kota yang tumbuh secepat Tangerang Selatan berarti siap bekerja dalam tekanan — antara ekspektasi publik yang tinggi dan batas kewenangan yang tak bisa diterobos.
Namun satu hal tetap dijaga: kehadiran pemerintah tidak boleh absen saat warganya menghadapi risiko.
“Jalan adalah urat nadi kota. Ketika ia terganggu, mobilitas ikut tersendat dan keselamatan dipertaruhkan. Komitmen kami jelas — memastikan jalan kota tetap laik dilalui, serta aktif mendorong percepatan penanganan pada ruas di luar kewenangan melalui koordinasi intensif,” tegas Robbi.
Perbaikan permanen akan dijalankan ketika cuaca memberi ruang. Hingga saat itu tiba, langkah-langkah sementara menjadi benteng pertama — menjaga agar roda kota tetap berputar dan perjalanan warga tidak berubah menjadi kekhawatiran.
Sebab pada akhirnya, jalan yang baik bukan hanya soal hamparan aspal.
Ia adalah tentang rasa tenang saat berangkat, dan rasa aman saat kembali pulang.
Dan di balik itu semua, ada kerja panjang yang mungkin tak selalu terlihat — tetapi tak pernah benar-benar berhenti.(KFZ)
#ciputat











