Minggu, 26 Juli 2026

Musim Kemarau Jadi Momentum, SDABMBK Tangsel Kebut Normalisasi Sungai untuk Tekan Risiko Banjir

TANGERANG SELATAN – Ketika sebagian masyarakat menikmati cuaca cerah di musim kemarau, suasana berbeda justru terlihat di sejumlah sungai di Kota Tangerang Selatan. Deru alat berat dan aktivitas petugas menjadi pemandangan sehari-hari. Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) memanfaatkan turunnya debit air untuk mempercepat pengerukan sedimentasi sebagai langkah antisipasi menghadapi musim penghujan.

Bagi SDABMBK, musim kemarau merupakan waktu paling efektif untuk memulihkan kapasitas sungai. Saat aliran air menyusut, alat berat lebih mudah menjangkau dasar sungai sehingga proses pengerukan dapat dilakukan secara maksimal.

Kepala Dinas SDABMBK Kota Tangerang Selatan, Robbi Cahyadi, ST., MT., mengatakan pemerintah tidak ingin menunggu banjir datang baru melakukan penanganan.

“Musim kemarau adalah kesempatan terbaik untuk mengangkat sedimentasi berupa lumpur maupun sampah yang mengendap di dasar sungai. Dengan kapasitas sungai yang kembali optimal, aliran air saat musim hujan akan lebih lancar sehingga risiko luapan ke permukiman dapat ditekan,” ujar Robbi.

Salah satu lokasi yang kini menjadi fokus penanganan berada di Kali Jeletreng, kawasan Puri Serpong. Di lokasi tersebut, tim Operasional Sumber Daya Air (OP SDA) mengerahkan long arm excavator untuk melakukan pengerukan sepanjang satu kilometer dengan target pengangkatan sedimentasi mencapai 7.500 meter kubik. Hingga saat ini, pekerjaan telah mencapai sekitar 150 meter.

Namun, yang diangkat dari dasar sungai bukan hanya endapan lumpur. Petugas juga menemukan tumpukan sampah plastik yang bercampur dengan sedimentasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah masih menjadi salah satu penyebab utama menurunnya kapasitas aliran sungai di kawasan perkotaan.

Normalisasi sungai yang dilakukan SDABMBK bukan sekadar pekerjaan rutin, melainkan bagian dari strategi jangka panjang Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam memperkuat sistem pengendalian banjir dari hulu hingga hilir.

Salah satu proyek prioritas berada di Sungai Ciputat, anak Sungai Angke yang masuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Angke. Sungai ini membentang dari kawasan Lapangan Golf Pondok Cabe di perbatasan Kota Depok dan Kecamatan Pamulang hingga Perumahan Japos di Kecamatan Pondok Aren, menjadi salah satu jalur utama yang menampung aliran air menuju wilayah hilir.

Di sungai tersebut, SDABMBK menargetkan pengerukan sedimentasi sepanjang 2,5 kilometer, mulai dari Perumahan Pondok Hijau hingga Perumahan Cipayung. Hingga kini, progres pekerjaan telah mencapai sekitar 500 meter.

“Sungai Ciputat merupakan salah satu tulang punggung sistem pengendalian banjir Kota Tangerang Selatan. Karena itu kapasitas tampungnya harus terus dijaga agar mampu mengalirkan debit air secara optimal ketika musim hujan tiba,” kata Robbi.

Untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses dari daratan, SDABMBK mengoperasikan excavator amfibi dan mini excavator. Kehadiran alat berat khusus tersebut memungkinkan proses pengerukan tetap berjalan pada area yang memiliki kondisi tanah lunak maupun akses terbatas.

Meski demikian, pekerjaan normalisasi tidak selalu berjalan mulus. Di sejumlah lokasi, badan sungai sudah terhimpit bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan sempadan sehingga alat berat tidak dapat masuk.

“Pada titik-titik tertentu kami harus melakukan pengerukan secara manual karena ruang gerak alat berat sangat terbatas. Memang membutuhkan waktu lebih lama, tetapi pekerjaan tetap kami laksanakan sesuai skala prioritas,” jelasnya.

Sebelum pekerjaan dimulai, petugas terlebih dahulu melakukan survei lapangan untuk memastikan penggunaan alat berat tidak mengganggu bangunan warga maupun aktivitas masyarakat di sekitar lokasi.

Robbi menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian banjir tidak hanya bergantung pada pekerjaan pemerintah. Ia mengajak para pengembang perumahan yang wilayahnya dilintasi sungai untuk turut menjaga fungsi infrastruktur pengendali banjir di kawasan masing-masing.

Menurutnya, kondisi tanggul sungai, dinding penahan tanah, serta kapasitas saluran perlu dipantau secara berkala agar potensi kerusakan dapat ditangani lebih dini sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Selain itu, pengerukan sedimentasi juga perlu dijadwalkan secara rutin pada titik-titik yang mulai mengalami pendangkalan.

“Sistem sungai itu saling terhubung. Ketika ada satu titik yang mengalami penyempitan, sedimentasi, atau kerusakan tanggul, dampaknya bisa dirasakan hingga ke wilayah lain di bagian hilir. Karena itu kami mengajak para pengembang ikut memantau kondisi tanggul dan menjadwalkan pengerukan sedimentasi secara berkala. Pengendalian banjir tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak,” ujar Robbi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut masih menjadi penyebab utama pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran air.

“Ketika hujan deras datang dan aliran sungai tersumbat sampah, dampaknya akan kembali dirasakan masyarakat dalam bentuk genangan maupun banjir. Menjaga sungai harus menjadi budaya bersama, dimulai dari hal sederhana, yakni membuang sampah pada tempatnya,” tegasnya.

Melalui percepatan normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, perbaikan tanggul, serta kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat, Pemerintah Kota Tangerang Selatan optimistis kapasitas sungai akan terus meningkat sehingga kota ini semakin siap menghadapi musim hujan dan mampu mengurangi risiko banjir di berbagai wilayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *